Amanat Pembina Upacara
Judul : Tidak Tercetak di Rapor, Tapi Tertinggal di Ingatan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.
Anak-anakku sekalian, sebelum Bapak/Ibu menyampaikan amanat pagi ini, izinkan Bapak/Ibu mengajak kalian jujur pada diri masing-masing.
Tadi pagi, saat kalian melangkah masuk melalui gerbang sekolah, siapa di antara kalian yang sempat memperhatikan wajah Bapak Penjaga Sekolah atau Ibu Kebersihan? Siapa yang sempat tersenyum, mengangguk, atau sekadar mengucapkan, ‘Selamat pagi, Pak’ atau ‘Terima kasih, Bu’ karena gerbang sudah dibuka dan lingkungan sekolah kita bersih?
Mungkin banyak yang tidak sempat. Bisa jadi karena terburu-buru takut terlambat. Bisa juga karena kita merasa itu sudah tugas mereka, sehingga tidak perlu disapa.
Anak-anakku, di sinilah kita perlu belajar satu hal yang sangat penting.
Sering kali kita terlalu sibuk mengejar angka. Kita stres ingin mendapatkan nilai 100 di lembar ujian. Kita bangga saat peringkat naik, atau ketika bisa memamerkan piala dan sertifikat di media sosial.
Prestasi itu baik. Dan Bapak/Ibu bangga jika kalian berprestasi. Namun, ada satu hal yang perlu kalian ingat, nilai kemanusiaan tidak pernah tertulis di dalam rapor.
Kebaikan hati kalian tidak diukur dari seberapa cepat menghafal rumus Matematika atau memahami teori Sejarah. Nilai sejati kalian sebagai manusia justru terlihat dari cara kalian memperlakukan orang lain.
- Terlihat saat kalian mengucapkan ‘terima kasih’ kepada petugas kantin.
- Terlihat saat kalian menyapa guru di koridor sekolah.
- Terlihat saat kalian menolong teman yang kesulitan, tanpa harus diminta.
Dunia ini sudah dipenuhi oleh orang-orang pintar. Orang jenius jumlahnya jutaan. Tetapi yang mulai langka adalah orang pintar yang punya hati, orang yang tetap sopan, rendah hati, dan menghargai sesama, tanpa memandang jabatan atau pekerjaan.
Bapak/Ibu ingin kalian tumbuh menjadi siswa yang cerdas dan berprestasi. Namun yang jauh lebih penting, jadilah manusia yang kehadirannya membuat orang lain merasa dihargai.
Ingat baik-baik, Nak, saat kalian lulus nanti, orang mungkin lupa berapa nilai Matematika kalian. Tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana cara kalian memperlakukan mereka.
“Mari kita mulai latihan hari ini. Tugas pertamanya sederhana, berikan sapaan ramah kepada teman temanmu, dan tunjukkan rasa hormat kepada guru-guru di kelas nanti.
Jadikan sekolah kita bukan hanya tempat yang pintar otaknya, tetapi juga hangat hatinya.
Sekian amanat dari saya. Selamat belajar, dan selamat menjadi orang baik.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.







0 komentar:
Post a Comment