CROSSCOL

ISI CROSSCOL

SURYAONE multi solutions

Belajar berUsaha apa saja yang penting BERMANFAAT dan HALAL

SURYA bengkel komputer

Servis komputer/laptop dan Instalasi Jaringan. CP : 08572 555 2740

Mayta collection

Lapak SANDANGAN

DELAPAN solutions

Solusi desain dan cetak

berkualitas dan harga terjangkau

Bu Wiyarti Catering

Melayani pemesanan :

Nasi Tumpeng, Nasi Box, Arem-arem, Kue basah/kering, dll.

FAJAR - Furniture and Building Solutions

Melayani jasa :

Pembangunan/Renovasi Rumah, pembuatan furniture kayu, las listrik.

Tuesday, January 27, 2026

Tips Menjadi Guru Berwibawa (Tanpa Harus Galak)

Tips Menjadi Guru Berwibawa (Tanpa Harus Galak)



1. Tegas di aturan, lembut di sikap

Wibawa lahir dari konsistensi. Aturan jelas sejak awal, ditegakkan dengan tenang—bukan emosi.

2. Ucapan sejalan dengan tindakan

Kalau guru minta disiplin tapi sering telat, wibawa langsung turun. Murid lebih cepat menilai dari contoh, bukan nasihat.

3. Kuasai kelas, bukan teriak di kelas

Kontrol kelas itu soal strategi: posisi berdiri, kontak mata, jeda bicara. Diam yang tepat kadang lebih “menampar” daripada marah.

4. Adil ke semua murid

Tidak pilih kasih, tidak membeda-bedakan. Murid sangat peka soal keadilan—di sinilah wibawa naik atau runtuh.

5. Tegur perilaku, bukan harga diri

Salah tetap ditegur, tapi jangan merendahkan. Murid yang dihargai justru lebih patuh.

6. Punya batas yang jelas

Ramah boleh, bercanda boleh, tapi tetap ada jarak profesional. Terlalu “akrab” tanpa batas sering bikin murid kurang hormat.

7. Percaya diri dengan peran sebagai guru

Tidak perlu merasa rendah di depan murid. Berdiri sebagai pendidik, bukan minta disukai.

8. Konsisten hari ini, besok, dan seterusnya

Wibawa bukan dibangun sehari. Tapi dari sikap yang sama, terus-menerus.

9. Tenang saat ditekan

Guru yang tidak mudah terpancing emosi justru terlihat lebih kuat di mata murid.

10. Tulus mendidik, bukan sekadar mengajar

Murid bisa merasakan mana guru yang peduli dan mana yang sekadar menggugurkan jam.

✨ Intinya:

Guru berwibawa itu bukan yang ditakuti, tapi dihormati. Ini bisa dicoba buat kita semua, mengajar yang benar2 butuh tenaga ekstra🥰

Monday, January 26, 2026

Amanat Pembina Upacara - Menghargai Guru dan Orang Tua

Amanat Pembina Upacara

Tema: Menghargai Guru dan Orang Tua


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Yang saya hormati Bapak/Ibu guru, staf sekolah, serta anak-anakku sekalian yang saya banggakan.

Pada kesempatan upacara pagi hari ini, saya ingin menyampaikan amanat dengan tema “Menghargai Guru dan Orang Tua”. Tema ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan sikap, karakter, dan masa depan kalian semua.

Anak-anakku sekalian,

Guru dan orang tua adalah dua sosok yang memiliki peran sangat besar dalam hidup kita. Orang tua adalah mereka yang pertama kali mendidik kita dengan penuh kasih sayang, pengorbanan, dan doa yang tidak pernah putus.

 Sejak kita lahir, merekalah yang merawat, membimbing, dan berjuang agar kita dapat tumbuh dan bersekolah seperti sekarang.

Di sekolah, guru adalah orang tua kedua bagi kalian. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing karakter, menanamkan nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, serta sikap saling menghormati. Apa yang kalian capai hari ini dan nanti di masa depan, tidak lepas dari jasa guru dan orang tua.

Namun, pada kenyataannya, terkadang kita masih kurang menghargai mereka. Ada yang berbicara tidak sopan, tidak mendengarkan nasihat, melanggar aturan sekolah, atau bahkan mengabaikan pesan orang tua di rumah. Sikap seperti ini harus kita perbaiki bersama.

Menghargai guru dan orang tua tidak selalu harus dengan hal besar. Hal sederhana pun sangat berarti, seperti:

● Mendengarkan ketika mereka berbicara

● Mengucapkan salam dan berbicara dengan sopan

● Menaati aturan sekolah dan nasihat orang tua

● Belajar dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan mereka

Anak-anakku yang saya banggakan,

Ingatlah bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada sikap kita terhadap guru. Begitu pula keberhasilan hidup sangat dipengaruhi oleh ridho orang tua. Jika kita ingin menjadi generasi yang sukses, berakhlak mulia, dan berguna bagi bangsa, maka mulailah dengan menghormati guru dan menyayangi orang tua.

Mari kita jadikan sekolah ini sebagai tempat yang penuh dengan sikap saling menghargai, sopan santun, dan keteladanan. Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi bekal kebaikan di masa depan.

Demikian amanat yang dapat saya sampaikan.

Terima kasih atas perhatian anak-anakku semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Rambut Rapi, Disiplin Dimulai dari Diri Sendiri

Amanat Pembina Upacara

Rambut Rapi, Disiplin Dimulai dari Diri Sendiri


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua.


Anak-anakku yang saya banggakan,


Pernahkah kalian berpikir, kenapa sekolah mengatur hal kecil seperti rambut?

Apakah karena ingin membatasi kebebasan kalian?

Atau justru karena ingin membentuk kebiasaan besar dari hal yang sederhana?


Anak-anakku,

Rambut adalah hal pertama yang terlihat, sebelum nilai, sebelum prestasi, bahkan sebelum kata-kata keluar dari mulut kita. Rambut yang rapi dan sesuai aturan mencerminkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kesiapan kita sebagai pelajar.


Aturan tentang rambut bukan untuk menghukum,

bukan untuk mempermalukan,

tetapi untuk melatih kita taat pada kesepakatan bersama.


Kedisiplinan tidak selalu dimulai dari hal besar.

Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Jika kita mampu mematuhi aturan tentang rambut,

maka kita sedang belajar mematuhi aturan hidup yang lebih besar di masa depan.


Sekolah adalah tempat kita belajar menjadi pribadi yang siap menghadapi dunia nyata.

Di luar sana, banyak aturan yang harus ditaati—di dunia kerja, di masyarakat, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Maka hari ini, mari kita tanyakan pada diri sendiri:

Apakah saya sudah menghargai aturan yang berlaku?

Apakah saya sudah menunjukkan sikap siap menjadi pribadi yang bertanggung jawab?


Anak-anakku,

Rambut rapi bukan sekadar soal penampilan,

tetapi soal sikap dan karakter.


Mari kita mulai disiplin dari diri sendiri,

dari hal yang sederhana,

dan dari sekarang.


Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Adab Lebih Penting dari pada Nilai

Amanat pembina upacara tentang "Adab lebih penting dari pada nilai"


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat pagi, yang saya hormati, Bapak/Ibu Guru, serta teman-teman sekalian yang saya banggakan. Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya untuk menyampaikan beberapa kata mengenai hal yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu mengenai adab.

Adab, atau tata krama, adalah suatu hal yang sangat mulia. Adab bukan hanya tentang cara kita berbicara atau bersikap kepada orang lain, tetapi juga cara kita menghargai dan menghormati orang lain serta lingkungan sekitar kita. Namun, saat ini, sering kali kita terjebak pada pandangan bahwa nilai atau prestasi adalah hal yang paling penting. Ada yang berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai tinggi, tetapi melupakan adab dalam keseharian mereka.

Anak-anakku sekalian, nilai memang penting. Nilai adalah indikator dari seberapa banyak pengetahuan yang kita miliki. Namun, adab jauh lebih penting dari sekadar angka atau pencapaian akademis. Mengapa? Karena adab menunjukkan karakter kita, bagaimana kita dipandang oleh orang lain, dan bagaimana kita membentuk hubungan yang baik dengan sesama.

Jika kita hanya mengejar nilai, namun tidak memiliki adab yang baik, maka kita akan kehilangan esensi dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukan hanya tentang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk kepribadian yang mulia. Orang yang beradab akan selalu dihormati dan disegani oleh orang lain, karena mereka tahu bagaimana bersikap dengan bijak dan penuh penghormatan.

Lebih jauh lagi, adab bukan hanya mencakup bagaimana kita bersikap kepada orang lain, tetapi juga kepada diri kita sendiri. Bagaimana kita menjaga perilaku, bagaimana kita merawat pikiran dan hati kita agar tetap bersih dan positif. Ketika kita memiliki adab yang baik, kita tidak hanya menghormati orang lain, tetapi juga menjaga kehormatan diri kita.

Anak-anakkuku sekalian, mungkin kita semua pernah mendengar pepatah yang mengatakan, "Budi pekerti yang baik adalah sumber dari segala kebaikan." Hal ini benar adanya. Seorang yang beradab, meskipun tidak memiliki nilai terbaik, tetap akan sukses dalam hidupnya karena mereka mampu menjaga hubungan baik dengan orang lain dan memiliki sikap yang positif dalam setiap aspek kehidupan.

Mari kita mulai untuk lebih memperhatikan adab kita. Adab kepada guru, adab kepada teman, adab kepada orang tua, dan adab kepada diri sendiri. Jangan biarkan nilai semata-mata menjadi patokan kita dalam hidup. Jadilah pribadi yang berbudi pekerti luhur, yang tidak hanya mengutamakan pencapaian materi, tetapi juga menghargai dan memuliakan adab.

Akhir kata, semoga kita semua bisa menjadikan adab sebagai bagian penting dalam perjalanan hidup kita. Semoga kita tidak hanya pandai dalam nilai, tetapi juga bijak dalam bersikap dan berbudi pekerti.

Terima kasih atas perhatian teman-teman semua. Semoga Allah SWT selalu memberi kita petunjuk dan keberkahan dalam setiap langkah kita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

AYAH HARUS DISIPLIN BANGUN LEBIH AWAL DAN MENJAGA SUBUHNYA

MENGAPA SEORANG AYAH

HARUS DISIPLIN BANGUN LEBIH AWAL

DAN MENJAGA SUBUHNYA**





Karena seorang ayah bukan hanya pencari nafkah, tapi penentu arah rumah tangga.

Subuh adalah ujian pertama kepemimpinan ayah.

Jika ia kalah oleh kantuk, bagaimana rumah akan kuat oleh iman?


1. Subuh adalah pintu rezeki

Rasulullah ï·º bersabda:

"Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya." (HR. Tirmidzi)

Ayah yang menjaga subuh sedang mengetuk pintu rezeki, bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk seluruh rumahnya.


2. Ayah adalah contoh, bukan penuntut

Anak dan istri tidak butuh banyak ceramah. Mereka butuh teladan. Jika ayah bangun lebih awal, wudhu sebelum matahari terbit, dan berdiri di shaf pertama, tanpa berkata apa-apa keluarga akan belajar taat.


3. Subuh menjaga wibawa ayah

Wibawa bukan dari suara keras, tapi dari ketaatan yang konsisten. Ayah yang menjaga subuh akan lebih didengar nasihatnya, lebih dihormati ucapannya, karena hidupnya sejalan dengan imannya.


4. Subuh adalah benteng dari dosa

Banyak maksiat lahir dari malam yang lalai dan pagi yang tertidur. Subuh memutus rantai itu. 

Ayah yang bangun pagi sedang menjaga dirinya agar tidak merusak rumahnya sendiri.


5. Subuh menentukan arah rumah

Rumah yang subuhnya hidup jarang sepi dari keberkahan.

Sebaliknya, rumah yang subuhnya mati akan mudah dipenuhi emosi, sempit rezeki, dan jauh dari ketenangan.


⚠️ Ayah, ini bukan soal rajin ibadah.

Ini soal tanggung jawab kepemimpinan.

Jangan berharap anak shalih jika ayahnya kalah oleh selimut.

Jangan menuntut istri taat jika ayah sendiri lalai pada panggilan Allah.

Amanat Pembina Upacara - Menjaga Lisan, Menjaga Persaudaraan

Amanat Pembina Upacara

✨Menjaga Lisan, Menjaga Persaudaraan✨

Anak-anakku yang Bapak/Ibu banggakan

Hari ini Bapak/Ibu ingin menyampaikan satu pesan penting yang sering dianggap sepele, tetapi dampaknya besar dalam kehidupan kita di sekolah. Pesannya tentang menjaga lisan dan sikap terhadap sesama teman.

Bapak/Ibu masih sering mendengar ada anak-anak yang menyebut-nyebut nama orang tua temannya, pekerjaan orang tuanya, atau gelar orang tuanya sebagai ejekan. Awalnya mungkin hanya bercanda, tetapi lama-lama melukai perasaan, menimbulkan marah, dan akhirnya berujung pada pertengkaran bahkan perkelahian.

Anak-anakku yang baik,

Perlu Bapak/Ibu ingin menegaskan bahwa Orang tua kita bukan bahan ejekan.

Setiap orang tua bekerja dengan cara yang terhormat untuk menafkahi dan mendidik anak-anaknya. Tidak ada pekerjaan yang lebih rendah dan tidak ada keluarga yang pantas direndahkan. Ketika kita menyebut orang tua teman dengan cara tidak pantas, sama saja kita menyakiti hati teman kita.

Ingatlah, anak-anakku, kita tidak dinilai dari siapa orang tua kita tetapi dari bagaimana sikap dan perilaku kita. Anak yang berakhlak baik akan dihormati meskipun orang tuanya sederhana. Sebaliknya, anak yang suka mengejek tidak akan dihargai meskipun merasa paling hebat.

Sekolah ini adalah tempat kita belajar menjadi manusia yang beradab, bukan tempat saling menjatuhkan. Teman adalah saudara kita di sekolah. Jika lisan kita kasar, persaudaraan akan rusak. Jika lisan kita dijaga, persahabatan akan tumbuh.

Mulai hari ini, Bapak/Ibu mengajak Ananda semua

1. Berhenti menyebut-nyebut orang tua teman dalam bercanda maupun bertengkar.

2. Gunakan kata-kata yang baik dan sopan

3. Jika marah, sampaikan dengan cara yang santun atau laporkan kepada guru.

4. Jadilah teman yang menjaga perasaan, bukan melukai.

Anak-anakku,,,

Mari kita jadikan sekolah ini tempat yang aman, nyaman, dan damai. Tidak ada ejekan, tidak ada hinaan, tidak ada perkelahian. Yang ada hanyalah saling menghargai, saling menjaga, dan saling mengingatkan dalam kebaikan

Demikian amanat yang dapat Bapak/Ibu sampaikan. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk memperbaiki sikap dan menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.

Terima kasih atas perhatian anak-anak semua. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Amanat Pembina Upacara - Belajar Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil

Amanat Pembina Upacara

Tema: Belajar Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil


Anak-anakku yang saya banggakan,

Setiap dari kalian sedang menempuh perjalanan yang berbeda.

Ada yang langkahnya cepat,

ada yang masih tertatih,

dan ada pula yang sedang lelah.

Semua itu tidak salah.

Karena dalam hidup, yang paling berharga bukan siapa yang paling dulu sampai,

tetapi siapa yang tidak berhenti melangkah.

Sering kali kita terlalu sibuk melihat hasil:

nilai, peringkat, piala, dan pujian.

Padahal, keberhasilan yang sesungguhnya sedang tumbuh diam-diam

saat kalian berusaha, meski belum terlihat hasilnya.

Proses itu memang tidak selalu mudah.

Ada rasa bosan, gagal, kecewa, bahkan ingin menyerah.

Namun justru di situlah kalian sedang belajar menjadi kuat.

Setiap halaman yang dibaca,

setiap kesalahan yang diperbaiki,

setiap usaha yang diulang,

adalah bagian penting dari proses menuju versi terbaik diri kalian.

Anak-anakku,

Tidak apa-apa jika hari ini kalian belum menjadi yang terbaik.

Tidak apa-apa jika hasil kalian belum sempurna.

Yang terpenting, jangan berhenti mencoba dan belajar.

Ingatlah,

pohon yang besar tidak tumbuh dalam semalam.

Ia bertahan dari panas, hujan, dan angin,

hingga akhirnya mampu memberi manfaat bagi banyak orang.

Begitu pula dengan kalian.

Teruslah berproses dengan jujur dan sabar.

Percayalah, setiap usaha yang kalian lakukan hari ini

akan menemukan waktunya untuk berbuah.

Dan saat hasil itu datang nanti,

kalian akan bangga bukan hanya karena berhasil,

tetapi karena kalian tahu betul betapa kerasnya proses yang telah dilalui.

Semoga kalian tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri,

tidak mudah menyerah,

dan selalu menghargai setiap langkah kecil dalam hidup.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sunday, January 25, 2026

Amanat Pembina Upacara - Memungut Sampah Tidak Menunggu Perintah

✨Amanat Pembina Upacara✨

"Memungut Sampah Tidak Menunggu Perintah"


Ananda yang Bapak/Ibu banggakan,

Memungut sampah mungkin tidak akan membuat Ananda mendapatkan tepuk tangan. Tidak selalu dipuji. Bahkan bisa saja tidak ada satu pun yang memperhatikan. Namun tahukah Ananda? Apa yang Ananda lakukan itu bukan perbuatan kecil.

Memungut sampah yang dilakukan dengan sadar dan tulus adalah amal kebaikan. Amal yang tidak diumumkan, tetapi dicatat oleh malaikat. Bukan sekadar dicatat, melainkan dicatat pada tingkatan yang sangat tinggi, yaitu ikhlas. Berbuat baik karena Allah, bukan karena ingin dipuji manusia.

Ananda yang Bapak/Ibu cintai,

Sampah memang kotor. Ia menjijikkan. Ia sering dihindari. Tetapi orang yang mau memungut sampah bukanlah orang yang kotor. Justru dialah orang yang paling bersih—bersih hatinya, bersih niatnya, dan bersih akhlaknya.

Karakter sejati bukan terlihat saat banyak orang menonton, tetapi saat tidak ada yang melihat. Ketika Ananda menunduk memungut sampah tanpa disuruh, di situlah Ananda sedang berlatih menjadi pribadi yang mulia.

Ingatlah,

Allah mencintai hamba yang melakukan kebaikan walau kecil, walau sunyi, walau tanpa sorotan. Satu langkah kecil Ananda hari ini bisa menjadi pemberat timbangan kebaikan kelak.

Maka mulai hari ini, jangan remehkan kebaikan sederhana.

Jika melihat sampah, pungutlah.

Bukan karena aturan.

Bukan karena guru.

Tetapi karena hati Ananda sudah terlatih untuk peduli.

Mari kita tanamkan satu keyakinan dalam diri:

Yang kotor itu sampahnya,

yang bersih itu orang yang memungutnya.

Semoga dari kebiasaan kecil ini, Ananda tumbuh menjadi generasi yang bersih lahir dan batin, kuat karakter, dan tinggi keikhlasannya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Bersuara Itu Hak, Bersikap Sopan Itu Kewajiban

Amanat Pembina Upacara

Tema: Bersuara Itu Hak, Bersikap Sopan Itu Kewajiban


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Bapak/Ibu guru dan staf sekolah,


serta anak-anakku yang saya banggakan.

Anak-anakku sekalian,


Di zaman sekarang, kalian tumbuh di era yang memberi ruang sangat luas untuk berbicara, berpendapat, dan mengekspresikan diri. Itu adalah hal baik. Bersuara adalah hak setiap orang, termasuk kalian sebagai pelajar.


Kalian boleh bertanya, boleh menyampaikan pendapat, boleh berbeda pandangan. Sekolah tidak pernah melarang itu. Justru kami bangga jika kalian berani berpikir dan berani berbicara.


Namun, anak-anakku…

ada satu hal yang tidak boleh dilupakan:

👉 Hak selalu datang bersama kewajiban.

👉 Kebebasan harus diiringi tanggung jawab.

Di sinilah letak pentingnya sikap sopan.

Berani bicara bukan berarti boleh berkata kasar.


Menyampaikan pendapat bukan berarti boleh membentak.

Tidak setuju bukan alasan untuk merendahkan.

Sopan santun adalah cermin karakter.

Orang yang berilmu, akan terlihat dari adabnya.

Orang yang cerdas, akan terdengar dari tutur katanya.


Coba renungkan sejenak,

Apakah pendapat kita akan lebih didengar jika disampaikan dengan emosi?


Atau justru lebih dihargai jika disampaikan dengan bahasa yang santun?


Anak-anakku yang saya sayangi,

Di sekolah ini, kami tidak hanya ingin mencetak siswa yang pandai secara akademik, tetapi juga berkarakter, beretika, dan berakhlak baik.


 Karena setinggi apa pun ilmu seseorang, tanpa sopan santun, ilmu itu kehilangan maknanya.


Ingatlah,

👉 Sopan kepada guru adalah bentuk penghargaan terhadap ilmu.

👉 Sopan kepada teman adalah tanda kedewasaan.

👉 Sopan dalam berbicara adalah bukti kualitas diri.


Mari kita biasakan berkata baik,

berpendapat dengan santun,

dan berbeda tanpa menyakiti.


Karena sejatinya, orang hebat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling bijak sikapnya.


Semoga kita semua mampu menjadi pelajar yang berani bersuara, namun tetap rendah hati dan beradab dalam bersikap.


Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Belajar bukan sekedar nilai, tapi Membentuk Akhlak

Amanat Pembina Upacara

Tema : Belajar bukan sekedar nilai, tapi Membentuk Akhlak 


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua.


Yang saya hormati Bapak/Ibu guru dan tenaga kependidikan,

serta anak-anakku sekalian yang saya banggakan.


Pada kesempatan upacara pagi ini, izinkan saya menyampaikan amanat dengan tema


 “Belajar Bukan Sekadar Nilai, Tapi Membentuk Akhlak.”


Anak-anakku yang saya cintai,

Sekolah sering kali dipahami hanya sebagai tempat mengejar angka: nilai rapor, peringkat kelas, dan kelulusan. Padahal, tujuan utama pendidikan jauh lebih besar dari itu. Belajar sejatinya adalah proses membentuk karakter, menumbuhkan adab, dan mematangkan akhlak.


Nilai akademik memang penting, tetapi akhlak adalah pondasi hidup. Nilai yang tinggi tanpa sikap yang baik akan kehilangan maknanya. Sebaliknya, ilmu yang dibarengi akhlak mulia akan menjadi cahaya—bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.


Anak-anakku,

Orang yang berilmu tetapi tidak berakhlak dapat menyalahgunakan ilmunya. Namun, orang yang berakhlak baik akan selalu menggunakan ilmunya untuk kebaikan. Maka, di sekolah ini kita tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga belajar jujur, disiplin, tanggung jawab, sopan santun, serta menghargai guru dan sesama teman.


Akhlak tercermin dari hal-hal sederhana:

Cara berbicara kepada guru dan teman

Kejujuran saat mengerjakan tugas dan ujian

Kedisiplinan datang ke sekolah

Sikap menghargai perbedaan dan menjaga lingkungan


Hal-hal kecil inilah yang kelak menentukan siapa diri kalian di masa depan.

Anak-anakku yang saya banggakan,

Kesuksesan sejati bukan hanya tentang menjadi pintar, tetapi tentang menjadi manusia yang bermanfaat dan beradab. Jadilah pelajar yang cerdas pikirannya, santun sikapnya, dan kuat integritasnya.


Mari kita jadikan sekolah sebagai tempat menimba ilmu sekaligus menumbuhkan akhlak mulia. Karena ilmu tanpa akhlak akan hampa, dan akhlak tanpa ilmu akan pincang.


Akhir kata, semoga kita semua diberikan kekuatan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menumbuhkan karakter yang luhur dalam setiap langkah kehidupan kita.


Terima kasih atas perhatian anak-anakku sekalian.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Sekolah Aman Dimulai dari Sikap Saling Menghargai

Amanat Pembina Upacara

Tema: Sekolah Aman Dimulai dari Sikap Saling Menghargai


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua.


Anak-anakku yang saya banggakan,

Sekolah adalah rumah kedua bagi kita. Tempat kita belajar, bertumbuh, berteman, dan meraih cita-cita. Namun, sekolah hanya akan terasa aman dan nyaman jika setiap warganya saling menghargai.


Menghargai bukanlah hal besar yang sulit dilakukan.

Menghargai dimulai dari sikap sederhana:

Mengucapkan salam dan berbicara dengan sopan


Tidak mengejek atau merendahkan teman

Mau mendengarkan pendapat orang lain

Menghormati guru, staf sekolah, dan sesama teman


Anak-anakku,

Sekolah yang aman bukan hanya sekolah tanpa kekerasan fisik, tetapi juga tanpa luka di hati.

Bullying, ejekan, kata-kata kasar, dan sikap meremehkan—sekecil apa pun—dapat membuat teman kita merasa takut, sedih, dan tidak bersemangat belajar.


Ingatlah, kata-kata bisa melukai lebih dalam daripada pukul4n.


Ketika kalian saling menghargai:

Teman merasa diterima

Kelas menjadi nyaman

Belajar menjadi menyenangkan

Prestasi pun akan mengikuti

Sebaliknya, ketika rasa hormat hilang, sekolah berubah menjadi tempat yang menakutkan, bukan tempat yang membahagiakan.


Anak-anakku yang saya cintai,

Mulailah dari diri sendiri.

Jadilah siswa yang berani berbuat baik, meski orang lain belum tentu melakukannya.

Jadilah teman yang mau merangkul, bukan menjatuhkan.


Karena sekolah aman bukan dibangun oleh aturan saja, tetapi oleh hati yang saling menghargai.


Mari kita jadikan sekolah ini:

Aman untuk belajar

Nyaman untuk tumbuh

Indah karena dipenuhi sikap saling menghormati


Semoga Allah SWT membimbing kita menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan saling menjaga satu sama lain.


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Apa yang Membuatmu Datang ke Sekolah?

Amanat Pembina Upacara

Tema: Apa yang Membuatmu Datang ke Sekolah?


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua.

Anak-anakku yang saya banggakan,

Coba renungkan sejenak. Setiap pagi kalian bangun, berseragam, lalu melangkah ke sekolah.

Apa sebenarnya yang membuat kalian datang ke sekolah?

Apakah karena kewajiban?

Karena takut terlambat?

Karena orang tua menyuruh?

Atau karena ingin bertemu teman?

Semua jawaban itu tidak salah.

Namun sekolah bukan hanya tentang hadir secara fisik, duduk di kelas, lalu pulang.

Sekolah adalah tempat kalian menanam mimpi.

Di sinilah karakter dibentuk, disiplin dilatih, tanggung jawab diajarkan, dan masa depan mulai dirancang.

Setiap pelajaran yang kalian ikuti, setiap tugas yang kalian kerjakan, bahkan setiap teguran yang kalian terima, semuanya adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih baik.

Datanglah ke sekolah bukan hanya dengan kaki,

tetapi juga dengan niat.

Niat untuk belajar,

niat untuk berubah,

dan niat untuk menjadi versi terbaik dari diri kalian.

Jika hari ini kalian datang ke sekolah dengan perasaan lelah, malas, atau jenuh, itu manusiawi.

Namun jangan lupa, ada orang tua yang berharap, ada guru yang berjuang, dan ada masa depan yang menunggu.

Maka tanyakan pada diri kalian setiap pagi:

“Aku datang ke sekolah hari ini untuk apa?”

Jika jawabannya untuk masa depanmu, maka jalani hari ini dengan sungguh-sungguh.

Akhir kata, semoga langkah kalian ke sekolah selalu bernilai ibadah, bermakna, dan membawa kalian lebih dekat pada cita-cita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Adab Terhadap Guru

AMANAT PEMBINA UPACARA

Tema: Adab Terhadap Guru


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati Bapak/Ibu guru beserta seluruh staf sekolah,

Dan anak-anakku sekalian yang Ibu banggakan.

Pada upacara pagi hari ini, izinkan Ibu menyampaikan amanat dengan tema “Adab Terhadap Guru.” Tema ini sangat penting, karena adab adalah dasar dari semua ilmu, dan sikap menghormati Guru adalah kunci keberkahan dalam belajar.

Anak-anakku sekalian,

Dalam proses pendidikan, guru memiliki peran yang sangat mulia. Mereka mengajarkan ilmu, membimbing akhlak, melatih kedisiplinan, dan menarahkan kalian agar menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, dan bertanggung jawab. Ilmu yang kalian dapatkan hari ini adalah hasil dari kesabaran dan pengorbanan para guru.

Namun, ilmu tidak akan bermanfaat apabila tidak disertai dengan adab. Adab adalah sikap sopan santun, hormat, dan patuh kepada guru dalam proses belajar. Tanpa adab, setinggi apa pun kepandaian kita, tidak akan membawa kebaikan.

Adab kepada guru dapat diwujudkan dalam hal-hal sederhana, seperti:

• Mendengarkan pelajaran dengan sungguh-sungguh

• Tidak memotong pembicaraan guru

• Menyapa dan mengucapkan salam kepada guru

• Melaksanakan tugas dengan disiplin

• Menjaga sikap dan tutur kata yang baik

• Tidak membantah, tidak mengejek, dan tidak meremehkan guru

Anak-anakku sekalian,

Ketahuilah bahwa adab mendahului ilmu. Banyak ulama besar menjadi mulia bukan hanya karena kecerdasan, tetapi karena mereka menjaga adab kepada gurunya. Dengan adab, ilmu menjadi berkah. Tanpa adab, ilmu hilang manfaatnya.

Selain itu, sikap hormat kepada guru juga merupakan cerminan dari akhlak yang baik. Jika kita ingin dihormati orang lain, maka mulailah dengan menghormati guru, orang yang setiap hari berjuang untuk masa depan kalian.

Mari kita jadikan sekolah ini sebagai tempat yang penuh sopan santun, rasa hormat, dan keteladanan. Jadikan adab sebagai pondasi utama dalam belajar dan kehidupan sehari-hari.

Demikian amanat yang dapat Ibu sampaikan.

Semoga Allah memberikan kita semua kemudahan dalam menuntut ilmu dan menjaga adab kepada guru.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Budaya Datang Terlambat, Masalah Kecil yang Merusak Mentalitas

Berikut contoh amanat pembina upacara dengan tema “Budaya Datang Terlambat: Masalah Kecil yang Merusak Mentalitas”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua.

Anak-anakku yang saya banggakan,

Pagi ini saya ingin mengajak kita semua merenungkan satu kebiasaan yang sering dianggap sepele, yaitu datang terlambat. Terlihat sederhana, bahkan kadang dianggap wajar. Namun sesungguhnya, kebiasaan inilah yang perlahan merusak mentalitas dan karakter kita.

Datang terlambat bukan hanya soal waktu, tetapi soal sikap. Sikap terhadap aturan, terhadap orang lain, dan terhadap tanggung jawab diri sendiri. Ketika kita terbiasa datang terlambat, kita sedang melatih diri untuk menyepelekan komitmen.

Anak-anakku,

Sering kali kita memiliki banyak alasan: bangun kesiangan, jarak rumah jauh, atau kegiatan lain yang dianggap lebih penting. Namun perlu kita sadari, orang yang berhasil bukanlah orang yang memiliki alasan terbanyak, melainkan orang yang mampu mengatur dirinya dengan baik.

Budaya datang tepat waktu melatih kita untuk menghargai usaha orang lain. Guru telah mempersiapkan pelajaran, petugas upacara telah berlatih, dan teman-teman telah menunggu. Ketika kita datang terlambat, sesungguhnya kita sedang mengabaikan semua itu.

Jika kebiasaan terlambat terus dibiarkan, maka kelak kita akan terbiasa menunda, tidak konsisten, dan sulit dipercaya. Padahal dunia di luar sekolah sangat menghargai ketepatan waktu dan tanggung jawab.

Mari kita ubah kebiasaan kecil ini mulai hari ini. Bangun lebih awal, persiapkan diri lebih baik, dan tanamkan dalam hati bahwa datang tepat waktu adalah bentuk disiplin dan penghargaan terhadap diri sendiri.

Semoga kita semua mampu meninggalkan budaya datang terlambat dan membangun karakter yang disiplin, bertanggung jawab, dan siap menghadapi masa depan.

Terima kasih atas perhatian anak-anakku.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Tidak Tercetak di Rapor, Tapi Tertinggal di Ingatan

Amanat Pembina Upacara

Judul : Tidak Tercetak di Rapor, Tapi Tertinggal di Ingatan


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Anak-anakku sekalian, sebelum Bapak/Ibu menyampaikan amanat pagi ini, izinkan Bapak/Ibu mengajak kalian jujur pada diri masing-masing.

Tadi pagi, saat kalian melangkah masuk melalui gerbang sekolah, siapa di antara kalian yang sempat memperhatikan wajah Bapak Penjaga Sekolah atau Ibu Kebersihan? Siapa yang sempat tersenyum, mengangguk, atau sekadar mengucapkan, ‘Selamat pagi, Pak’ atau ‘Terima kasih, Bu’ karena gerbang sudah dibuka dan lingkungan sekolah kita bersih?

Mungkin banyak yang tidak sempat. Bisa jadi karena terburu-buru takut terlambat. Bisa juga karena kita merasa itu sudah tugas mereka, sehingga tidak perlu disapa.

Anak-anakku, di sinilah kita perlu belajar satu hal yang sangat penting.

Sering kali kita terlalu sibuk mengejar angka. Kita stres ingin mendapatkan nilai 100 di lembar ujian. Kita bangga saat peringkat naik, atau ketika bisa memamerkan piala dan sertifikat di media sosial.

Prestasi itu baik. Dan Bapak/Ibu bangga jika kalian berprestasi. Namun, ada satu hal yang perlu kalian ingat, nilai kemanusiaan tidak pernah tertulis di dalam rapor.

Kebaikan hati kalian tidak diukur dari seberapa cepat menghafal rumus Matematika atau memahami teori Sejarah. Nilai sejati kalian sebagai manusia justru terlihat dari cara kalian memperlakukan orang lain.

  • Terlihat saat kalian mengucapkan ‘terima kasih’ kepada petugas kantin.
  • Terlihat saat kalian menyapa guru di koridor sekolah.
  • Terlihat saat kalian menolong teman yang kesulitan, tanpa harus diminta.

Dunia ini sudah dipenuhi oleh orang-orang pintar. Orang jenius jumlahnya jutaan. Tetapi yang mulai langka adalah orang pintar yang punya hati, orang yang tetap sopan, rendah hati, dan menghargai sesama, tanpa memandang jabatan atau pekerjaan.

Bapak/Ibu ingin kalian tumbuh menjadi siswa yang cerdas dan berprestasi. Namun yang jauh lebih penting, jadilah manusia yang kehadirannya membuat orang lain merasa dihargai.

Ingat baik-baik, Nak, saat kalian lulus nanti, orang mungkin lupa berapa nilai Matematika kalian. Tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana cara kalian memperlakukan mereka.

“Mari kita mulai latihan hari ini. Tugas pertamanya sederhana, berikan sapaan ramah kepada teman temanmu, dan tunjukkan rasa hormat kepada guru-guru di kelas nanti.

Jadikan sekolah kita bukan hanya tempat yang pintar otaknya, tetapi juga hangat hatinya.

Sekian amanat dari saya. Selamat belajar, dan selamat menjadi orang baik.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.