CROSSCOL

ISI CROSSCOL

SURYAONE multi solutions

Belajar berUsaha apa saja yang penting BERMANFAAT dan HALAL

SURYA bengkel komputer

Servis komputer/laptop dan Instalasi Jaringan. CP : 08572 555 2740

Mayta collection

Lapak SANDANGAN

DELAPAN solutions

Solusi desain dan cetak

berkualitas dan harga terjangkau

Bu Wiyarti Catering

Melayani pemesanan :

Nasi Tumpeng, Nasi Box, Arem-arem, Kue basah/kering, dll.

FAJAR - Furniture and Building Solutions

Melayani jasa :

Pembangunan/Renovasi Rumah, pembuatan furniture kayu, las listrik.

Saturday, January 31, 2026

Amanat Pembina Upacara - Filter Lisan, Amankan Masa Depan

Amanat Pembina Upacara

Judul: Filter Lisan, Amankan Masa Depan


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

Anak-anakku yang Bapak/Ibu banggakan, Hari ini kita akan membahas satu hal kecil yang sering dianggap sepele, tapi dampaknya sangat besar: lisan.

Bayangkan kalian memegang selembar kertas putih, lalu meremasnya hingga kusut. Ketika dibuka kembali, kertas itu tidak akan pernah kembali seperti semula. Bekasnya akan selalu ada. Begitulah kata-kata. Ucapan yang terlanjur keluar, atau tulisan yang sudah diposting, bisa meninggalkan luka di hati orang lain dan jejak digital yang sulit dihapus, meski kita sudah meminta maaf.

Mengapa lisan harus dijaga? Karena lisan adalah identitas paling jujur dari diri kita. Orang yang cerdas mampu mengendalikan ucapannya. Jika yang keluar makian, hinaan, atau hoaks, itu tanda cara berpikir yang bermasalah. Jangan sampai penampilan sudah rapi, tapi lisan masih toxic.

Sering kali kita berdalih, “Cuma bercanda.” Padahal kita tidak pernah tahu seberat apa masalah yang sedang dihadapi orang lain. Satu ejekan kecil bisa menjadi beban besar bagi mental seseorang.

Di era digital, lisan bukan hanya lewat mulut, tetapi juga lewat jempol. Apa yang kalian tulis hari ini akan menjadi jejak di masa depan. Sekolah lanjutan, kampus, bahkan dunia kerja tidak hanya melihat nilai rapor, tetapi juga cara kalian berkomunikasi di dunia digital.

Karena itu, ingat rumus T-H-I-N-K sebelum berbicara atau menulis:

T (True): Apakah ini benar?

H (Helpful): Apakah bermanfaat?

I (Inspiring): Apakah memberi pengaruh positif?

N (Necessary): Apakah perlu disampaikan?

K (Kind): Apakah disampaikan dengan cara yang baik?

Jika tidak lolos rumus ini, lebih baik diam. Diam bukan berarti sedang sakit gigi atau sariawan, tetapi tanda kedewasaan dan pengendalian diri.

Mari jadikan sekolah ini tempat yang aman dan nyaman, di mana kata-kata digunakan untuk menguatkan, bukan menjatuhkan. Gunakan lisan untuk berdoa, belajar, dan menyebarkan kebaikan.

Terima kasih atas perhatiannya. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Friday, January 30, 2026

Amanat Pembina Upacara - Ada Keringat Orang Tua yang Tak Terlihat Demi Masa Depan

Amanat Pembina Upacara

Tema: Ada Keringat Orang Tua yang Tak Terlihat Demi Masa Depan


Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh 

Salam sejahtera buat kita semua 

Anak-anakku yang saya banggakan,

Di balik seragam yang kalian pakai hari ini, ada keringat orang tua yang tidak pernah kalian lihat. Bukan hanya keringat lelah, tetapi juga keringat yang bercampur rasa perih.

Tahukah kalian, saat orang tua mencari nafkah, tidak semuanya dihargai.

Ada yang diremehkan pekerjaannya.

Ada yang dipandang sebelah mata.

Ada yang harus menunduk, menahan kata-kata kasar dan hinaan—bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka ingin anaknya tetap bisa sekolah dan bermimpi.

Mereka menelan rasa malu, demi masa depan kalian.

Mereka memilih diam, agar kalian bisa berdiri lebih tinggi.

Maka sungguh menyedihkan jika keringat dan hinaan itu dibalas dengan kemalasan, pelanggaran, atau sikap tidak hormat di sekolah. Setiap kalian bolos, setiap kalian melawan guru, setiap kalian menyia-nyiakan waktu belajar—di sanalah perjuangan orang tua terasa sia-sia.

Belajarlah dengan sungguh-sungguh.

Berperilakulah dengan baik.

Karena kesuksesan kalian kelak adalah cara paling mulia untuk membalas hinaan yang pernah diterima orang tua.

Semoga Allah SWT mengangkat derajat orang tua kita, mengganti setiap hinaan dengan kemuliaan, dan menjadikan kita anak-anak yang berbakti serta membanggakan.

Aamiin.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 

By : Nur Auliah Uly

Tuesday, January 27, 2026

Tips Menjadi Guru Berwibawa (Tanpa Harus Galak)

Tips Menjadi Guru Berwibawa (Tanpa Harus Galak)



1. Tegas di aturan, lembut di sikap

Wibawa lahir dari konsistensi. Aturan jelas sejak awal, ditegakkan dengan tenang—bukan emosi.

2. Ucapan sejalan dengan tindakan

Kalau guru minta disiplin tapi sering telat, wibawa langsung turun. Murid lebih cepat menilai dari contoh, bukan nasihat.

3. Kuasai kelas, bukan teriak di kelas

Kontrol kelas itu soal strategi: posisi berdiri, kontak mata, jeda bicara. Diam yang tepat kadang lebih “menampar” daripada marah.

4. Adil ke semua murid

Tidak pilih kasih, tidak membeda-bedakan. Murid sangat peka soal keadilan—di sinilah wibawa naik atau runtuh.

5. Tegur perilaku, bukan harga diri

Salah tetap ditegur, tapi jangan merendahkan. Murid yang dihargai justru lebih patuh.

6. Punya batas yang jelas

Ramah boleh, bercanda boleh, tapi tetap ada jarak profesional. Terlalu “akrab” tanpa batas sering bikin murid kurang hormat.

7. Percaya diri dengan peran sebagai guru

Tidak perlu merasa rendah di depan murid. Berdiri sebagai pendidik, bukan minta disukai.

8. Konsisten hari ini, besok, dan seterusnya

Wibawa bukan dibangun sehari. Tapi dari sikap yang sama, terus-menerus.

9. Tenang saat ditekan

Guru yang tidak mudah terpancing emosi justru terlihat lebih kuat di mata murid.

10. Tulus mendidik, bukan sekadar mengajar

Murid bisa merasakan mana guru yang peduli dan mana yang sekadar menggugurkan jam.

✨ Intinya:

Guru berwibawa itu bukan yang ditakuti, tapi dihormati. Ini bisa dicoba buat kita semua, mengajar yang benar2 butuh tenaga ekstra🥰

Monday, January 26, 2026

Amanat Pembina Upacara - Menghargai Guru dan Orang Tua

Amanat Pembina Upacara

Tema: Menghargai Guru dan Orang Tua


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Yang saya hormati Bapak/Ibu guru, staf sekolah, serta anak-anakku sekalian yang saya banggakan.

Pada kesempatan upacara pagi hari ini, saya ingin menyampaikan amanat dengan tema “Menghargai Guru dan Orang Tua”. Tema ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan sikap, karakter, dan masa depan kalian semua.

Anak-anakku sekalian,

Guru dan orang tua adalah dua sosok yang memiliki peran sangat besar dalam hidup kita. Orang tua adalah mereka yang pertama kali mendidik kita dengan penuh kasih sayang, pengorbanan, dan doa yang tidak pernah putus.

 Sejak kita lahir, merekalah yang merawat, membimbing, dan berjuang agar kita dapat tumbuh dan bersekolah seperti sekarang.

Di sekolah, guru adalah orang tua kedua bagi kalian. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing karakter, menanamkan nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, serta sikap saling menghormati. Apa yang kalian capai hari ini dan nanti di masa depan, tidak lepas dari jasa guru dan orang tua.

Namun, pada kenyataannya, terkadang kita masih kurang menghargai mereka. Ada yang berbicara tidak sopan, tidak mendengarkan nasihat, melanggar aturan sekolah, atau bahkan mengabaikan pesan orang tua di rumah. Sikap seperti ini harus kita perbaiki bersama.

Menghargai guru dan orang tua tidak selalu harus dengan hal besar. Hal sederhana pun sangat berarti, seperti:

● Mendengarkan ketika mereka berbicara

● Mengucapkan salam dan berbicara dengan sopan

● Menaati aturan sekolah dan nasihat orang tua

● Belajar dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan mereka

Anak-anakku yang saya banggakan,

Ingatlah bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada sikap kita terhadap guru. Begitu pula keberhasilan hidup sangat dipengaruhi oleh ridho orang tua. Jika kita ingin menjadi generasi yang sukses, berakhlak mulia, dan berguna bagi bangsa, maka mulailah dengan menghormati guru dan menyayangi orang tua.

Mari kita jadikan sekolah ini sebagai tempat yang penuh dengan sikap saling menghargai, sopan santun, dan keteladanan. Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi bekal kebaikan di masa depan.

Demikian amanat yang dapat saya sampaikan.

Terima kasih atas perhatian anak-anakku semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Rambut Rapi, Disiplin Dimulai dari Diri Sendiri

Amanat Pembina Upacara

Rambut Rapi, Disiplin Dimulai dari Diri Sendiri


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua.


Anak-anakku yang saya banggakan,


Pernahkah kalian berpikir, kenapa sekolah mengatur hal kecil seperti rambut?

Apakah karena ingin membatasi kebebasan kalian?

Atau justru karena ingin membentuk kebiasaan besar dari hal yang sederhana?


Anak-anakku,

Rambut adalah hal pertama yang terlihat, sebelum nilai, sebelum prestasi, bahkan sebelum kata-kata keluar dari mulut kita. Rambut yang rapi dan sesuai aturan mencerminkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kesiapan kita sebagai pelajar.


Aturan tentang rambut bukan untuk menghukum,

bukan untuk mempermalukan,

tetapi untuk melatih kita taat pada kesepakatan bersama.


Kedisiplinan tidak selalu dimulai dari hal besar.

Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Jika kita mampu mematuhi aturan tentang rambut,

maka kita sedang belajar mematuhi aturan hidup yang lebih besar di masa depan.


Sekolah adalah tempat kita belajar menjadi pribadi yang siap menghadapi dunia nyata.

Di luar sana, banyak aturan yang harus ditaati—di dunia kerja, di masyarakat, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Maka hari ini, mari kita tanyakan pada diri sendiri:

Apakah saya sudah menghargai aturan yang berlaku?

Apakah saya sudah menunjukkan sikap siap menjadi pribadi yang bertanggung jawab?


Anak-anakku,

Rambut rapi bukan sekadar soal penampilan,

tetapi soal sikap dan karakter.


Mari kita mulai disiplin dari diri sendiri,

dari hal yang sederhana,

dan dari sekarang.


Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.