CROSSCOL

ISI CROSSCOL

SURYAONE multi solutions

Belajar berUsaha apa saja yang penting BERMANFAAT dan HALAL

SURYA bengkel komputer

Servis komputer/laptop dan Instalasi Jaringan. CP : 08572 555 2740

Mayta collection

Lapak SANDANGAN

DELAPAN solutions

Solusi desain dan cetak

berkualitas dan harga terjangkau

Bu Wiyarti Catering

Melayani pemesanan :

Nasi Tumpeng, Nasi Box, Arem-arem, Kue basah/kering, dll.

FAJAR - Furniture and Building Solutions

Melayani jasa :

Pembangunan/Renovasi Rumah, pembuatan furniture kayu, las listrik.

Sunday, January 25, 2026

Amanat Pembina Upacara - Sekolah Aman Dimulai dari Sikap Saling Menghargai

Amanat Pembina Upacara

Tema: Sekolah Aman Dimulai dari Sikap Saling Menghargai


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua.


Anak-anakku yang saya banggakan,

Sekolah adalah rumah kedua bagi kita. Tempat kita belajar, bertumbuh, berteman, dan meraih cita-cita. Namun, sekolah hanya akan terasa aman dan nyaman jika setiap warganya saling menghargai.


Menghargai bukanlah hal besar yang sulit dilakukan.

Menghargai dimulai dari sikap sederhana:

Mengucapkan salam dan berbicara dengan sopan


Tidak mengejek atau merendahkan teman

Mau mendengarkan pendapat orang lain

Menghormati guru, staf sekolah, dan sesama teman


Anak-anakku,

Sekolah yang aman bukan hanya sekolah tanpa kekerasan fisik, tetapi juga tanpa luka di hati.

Bullying, ejekan, kata-kata kasar, dan sikap meremehkan—sekecil apa pun—dapat membuat teman kita merasa takut, sedih, dan tidak bersemangat belajar.


Ingatlah, kata-kata bisa melukai lebih dalam daripada pukul4n.


Ketika kalian saling menghargai:

Teman merasa diterima

Kelas menjadi nyaman

Belajar menjadi menyenangkan

Prestasi pun akan mengikuti

Sebaliknya, ketika rasa hormat hilang, sekolah berubah menjadi tempat yang menakutkan, bukan tempat yang membahagiakan.


Anak-anakku yang saya cintai,

Mulailah dari diri sendiri.

Jadilah siswa yang berani berbuat baik, meski orang lain belum tentu melakukannya.

Jadilah teman yang mau merangkul, bukan menjatuhkan.


Karena sekolah aman bukan dibangun oleh aturan saja, tetapi oleh hati yang saling menghargai.


Mari kita jadikan sekolah ini:

Aman untuk belajar

Nyaman untuk tumbuh

Indah karena dipenuhi sikap saling menghormati


Semoga Allah SWT membimbing kita menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan saling menjaga satu sama lain.


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Apa yang Membuatmu Datang ke Sekolah?

Amanat Pembina Upacara

Tema: Apa yang Membuatmu Datang ke Sekolah?


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua.

Anak-anakku yang saya banggakan,

Coba renungkan sejenak. Setiap pagi kalian bangun, berseragam, lalu melangkah ke sekolah.

Apa sebenarnya yang membuat kalian datang ke sekolah?

Apakah karena kewajiban?

Karena takut terlambat?

Karena orang tua menyuruh?

Atau karena ingin bertemu teman?

Semua jawaban itu tidak salah.

Namun sekolah bukan hanya tentang hadir secara fisik, duduk di kelas, lalu pulang.

Sekolah adalah tempat kalian menanam mimpi.

Di sinilah karakter dibentuk, disiplin dilatih, tanggung jawab diajarkan, dan masa depan mulai dirancang.

Setiap pelajaran yang kalian ikuti, setiap tugas yang kalian kerjakan, bahkan setiap teguran yang kalian terima, semuanya adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih baik.

Datanglah ke sekolah bukan hanya dengan kaki,

tetapi juga dengan niat.

Niat untuk belajar,

niat untuk berubah,

dan niat untuk menjadi versi terbaik dari diri kalian.

Jika hari ini kalian datang ke sekolah dengan perasaan lelah, malas, atau jenuh, itu manusiawi.

Namun jangan lupa, ada orang tua yang berharap, ada guru yang berjuang, dan ada masa depan yang menunggu.

Maka tanyakan pada diri kalian setiap pagi:

“Aku datang ke sekolah hari ini untuk apa?”

Jika jawabannya untuk masa depanmu, maka jalani hari ini dengan sungguh-sungguh.

Akhir kata, semoga langkah kalian ke sekolah selalu bernilai ibadah, bermakna, dan membawa kalian lebih dekat pada cita-cita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Adab Terhadap Guru

AMANAT PEMBINA UPACARA

Tema: Adab Terhadap Guru


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati Bapak/Ibu guru beserta seluruh staf sekolah,

Dan anak-anakku sekalian yang Ibu banggakan.

Pada upacara pagi hari ini, izinkan Ibu menyampaikan amanat dengan tema “Adab Terhadap Guru.” Tema ini sangat penting, karena adab adalah dasar dari semua ilmu, dan sikap menghormati Guru adalah kunci keberkahan dalam belajar.

Anak-anakku sekalian,

Dalam proses pendidikan, guru memiliki peran yang sangat mulia. Mereka mengajarkan ilmu, membimbing akhlak, melatih kedisiplinan, dan menarahkan kalian agar menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, dan bertanggung jawab. Ilmu yang kalian dapatkan hari ini adalah hasil dari kesabaran dan pengorbanan para guru.

Namun, ilmu tidak akan bermanfaat apabila tidak disertai dengan adab. Adab adalah sikap sopan santun, hormat, dan patuh kepada guru dalam proses belajar. Tanpa adab, setinggi apa pun kepandaian kita, tidak akan membawa kebaikan.

Adab kepada guru dapat diwujudkan dalam hal-hal sederhana, seperti:

• Mendengarkan pelajaran dengan sungguh-sungguh

• Tidak memotong pembicaraan guru

• Menyapa dan mengucapkan salam kepada guru

• Melaksanakan tugas dengan disiplin

• Menjaga sikap dan tutur kata yang baik

• Tidak membantah, tidak mengejek, dan tidak meremehkan guru

Anak-anakku sekalian,

Ketahuilah bahwa adab mendahului ilmu. Banyak ulama besar menjadi mulia bukan hanya karena kecerdasan, tetapi karena mereka menjaga adab kepada gurunya. Dengan adab, ilmu menjadi berkah. Tanpa adab, ilmu hilang manfaatnya.

Selain itu, sikap hormat kepada guru juga merupakan cerminan dari akhlak yang baik. Jika kita ingin dihormati orang lain, maka mulailah dengan menghormati guru, orang yang setiap hari berjuang untuk masa depan kalian.

Mari kita jadikan sekolah ini sebagai tempat yang penuh sopan santun, rasa hormat, dan keteladanan. Jadikan adab sebagai pondasi utama dalam belajar dan kehidupan sehari-hari.

Demikian amanat yang dapat Ibu sampaikan.

Semoga Allah memberikan kita semua kemudahan dalam menuntut ilmu dan menjaga adab kepada guru.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Budaya Datang Terlambat, Masalah Kecil yang Merusak Mentalitas

Berikut contoh amanat pembina upacara dengan tema “Budaya Datang Terlambat: Masalah Kecil yang Merusak Mentalitas”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua.

Anak-anakku yang saya banggakan,

Pagi ini saya ingin mengajak kita semua merenungkan satu kebiasaan yang sering dianggap sepele, yaitu datang terlambat. Terlihat sederhana, bahkan kadang dianggap wajar. Namun sesungguhnya, kebiasaan inilah yang perlahan merusak mentalitas dan karakter kita.

Datang terlambat bukan hanya soal waktu, tetapi soal sikap. Sikap terhadap aturan, terhadap orang lain, dan terhadap tanggung jawab diri sendiri. Ketika kita terbiasa datang terlambat, kita sedang melatih diri untuk menyepelekan komitmen.

Anak-anakku,

Sering kali kita memiliki banyak alasan: bangun kesiangan, jarak rumah jauh, atau kegiatan lain yang dianggap lebih penting. Namun perlu kita sadari, orang yang berhasil bukanlah orang yang memiliki alasan terbanyak, melainkan orang yang mampu mengatur dirinya dengan baik.

Budaya datang tepat waktu melatih kita untuk menghargai usaha orang lain. Guru telah mempersiapkan pelajaran, petugas upacara telah berlatih, dan teman-teman telah menunggu. Ketika kita datang terlambat, sesungguhnya kita sedang mengabaikan semua itu.

Jika kebiasaan terlambat terus dibiarkan, maka kelak kita akan terbiasa menunda, tidak konsisten, dan sulit dipercaya. Padahal dunia di luar sekolah sangat menghargai ketepatan waktu dan tanggung jawab.

Mari kita ubah kebiasaan kecil ini mulai hari ini. Bangun lebih awal, persiapkan diri lebih baik, dan tanamkan dalam hati bahwa datang tepat waktu adalah bentuk disiplin dan penghargaan terhadap diri sendiri.

Semoga kita semua mampu meninggalkan budaya datang terlambat dan membangun karakter yang disiplin, bertanggung jawab, dan siap menghadapi masa depan.

Terima kasih atas perhatian anak-anakku.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Tidak Tercetak di Rapor, Tapi Tertinggal di Ingatan

Amanat Pembina Upacara

Judul : Tidak Tercetak di Rapor, Tapi Tertinggal di Ingatan


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Anak-anakku sekalian, sebelum Bapak/Ibu menyampaikan amanat pagi ini, izinkan Bapak/Ibu mengajak kalian jujur pada diri masing-masing.

Tadi pagi, saat kalian melangkah masuk melalui gerbang sekolah, siapa di antara kalian yang sempat memperhatikan wajah Bapak Penjaga Sekolah atau Ibu Kebersihan? Siapa yang sempat tersenyum, mengangguk, atau sekadar mengucapkan, ‘Selamat pagi, Pak’ atau ‘Terima kasih, Bu’ karena gerbang sudah dibuka dan lingkungan sekolah kita bersih?

Mungkin banyak yang tidak sempat. Bisa jadi karena terburu-buru takut terlambat. Bisa juga karena kita merasa itu sudah tugas mereka, sehingga tidak perlu disapa.

Anak-anakku, di sinilah kita perlu belajar satu hal yang sangat penting.

Sering kali kita terlalu sibuk mengejar angka. Kita stres ingin mendapatkan nilai 100 di lembar ujian. Kita bangga saat peringkat naik, atau ketika bisa memamerkan piala dan sertifikat di media sosial.

Prestasi itu baik. Dan Bapak/Ibu bangga jika kalian berprestasi. Namun, ada satu hal yang perlu kalian ingat, nilai kemanusiaan tidak pernah tertulis di dalam rapor.

Kebaikan hati kalian tidak diukur dari seberapa cepat menghafal rumus Matematika atau memahami teori Sejarah. Nilai sejati kalian sebagai manusia justru terlihat dari cara kalian memperlakukan orang lain.

  • Terlihat saat kalian mengucapkan ‘terima kasih’ kepada petugas kantin.
  • Terlihat saat kalian menyapa guru di koridor sekolah.
  • Terlihat saat kalian menolong teman yang kesulitan, tanpa harus diminta.

Dunia ini sudah dipenuhi oleh orang-orang pintar. Orang jenius jumlahnya jutaan. Tetapi yang mulai langka adalah orang pintar yang punya hati, orang yang tetap sopan, rendah hati, dan menghargai sesama, tanpa memandang jabatan atau pekerjaan.

Bapak/Ibu ingin kalian tumbuh menjadi siswa yang cerdas dan berprestasi. Namun yang jauh lebih penting, jadilah manusia yang kehadirannya membuat orang lain merasa dihargai.

Ingat baik-baik, Nak, saat kalian lulus nanti, orang mungkin lupa berapa nilai Matematika kalian. Tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana cara kalian memperlakukan mereka.

“Mari kita mulai latihan hari ini. Tugas pertamanya sederhana, berikan sapaan ramah kepada teman temanmu, dan tunjukkan rasa hormat kepada guru-guru di kelas nanti.

Jadikan sekolah kita bukan hanya tempat yang pintar otaknya, tetapi juga hangat hatinya.

Sekian amanat dari saya. Selamat belajar, dan selamat menjadi orang baik.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.