CROSSCOL

ISI CROSSCOL

SURYAONE multi solutions

Belajar berUsaha apa saja yang penting BERMANFAAT dan HALAL

SURYA bengkel komputer

Servis komputer/laptop dan Instalasi Jaringan. CP : 08572 555 2740

Mayta collection

Lapak SANDANGAN

DELAPAN solutions

Solusi desain dan cetak

berkualitas dan harga terjangkau

Bu Wiyarti Catering

Melayani pemesanan :

Nasi Tumpeng, Nasi Box, Arem-arem, Kue basah/kering, dll.

FAJAR - Furniture and Building Solutions

Melayani jasa :

Pembangunan/Renovasi Rumah, pembuatan furniture kayu, las listrik.

Monday, January 26, 2026

Amanat Pembina Upacara - Menjaga Lisan, Menjaga Persaudaraan

Amanat Pembina Upacara

✨Menjaga Lisan, Menjaga Persaudaraan✨

Anak-anakku yang Bapak/Ibu banggakan

Hari ini Bapak/Ibu ingin menyampaikan satu pesan penting yang sering dianggap sepele, tetapi dampaknya besar dalam kehidupan kita di sekolah. Pesannya tentang menjaga lisan dan sikap terhadap sesama teman.

Bapak/Ibu masih sering mendengar ada anak-anak yang menyebut-nyebut nama orang tua temannya, pekerjaan orang tuanya, atau gelar orang tuanya sebagai ejekan. Awalnya mungkin hanya bercanda, tetapi lama-lama melukai perasaan, menimbulkan marah, dan akhirnya berujung pada pertengkaran bahkan perkelahian.

Anak-anakku yang baik,

Perlu Bapak/Ibu ingin menegaskan bahwa Orang tua kita bukan bahan ejekan.

Setiap orang tua bekerja dengan cara yang terhormat untuk menafkahi dan mendidik anak-anaknya. Tidak ada pekerjaan yang lebih rendah dan tidak ada keluarga yang pantas direndahkan. Ketika kita menyebut orang tua teman dengan cara tidak pantas, sama saja kita menyakiti hati teman kita.

Ingatlah, anak-anakku, kita tidak dinilai dari siapa orang tua kita tetapi dari bagaimana sikap dan perilaku kita. Anak yang berakhlak baik akan dihormati meskipun orang tuanya sederhana. Sebaliknya, anak yang suka mengejek tidak akan dihargai meskipun merasa paling hebat.

Sekolah ini adalah tempat kita belajar menjadi manusia yang beradab, bukan tempat saling menjatuhkan. Teman adalah saudara kita di sekolah. Jika lisan kita kasar, persaudaraan akan rusak. Jika lisan kita dijaga, persahabatan akan tumbuh.

Mulai hari ini, Bapak/Ibu mengajak Ananda semua

1. Berhenti menyebut-nyebut orang tua teman dalam bercanda maupun bertengkar.

2. Gunakan kata-kata yang baik dan sopan

3. Jika marah, sampaikan dengan cara yang santun atau laporkan kepada guru.

4. Jadilah teman yang menjaga perasaan, bukan melukai.

Anak-anakku,,,

Mari kita jadikan sekolah ini tempat yang aman, nyaman, dan damai. Tidak ada ejekan, tidak ada hinaan, tidak ada perkelahian. Yang ada hanyalah saling menghargai, saling menjaga, dan saling mengingatkan dalam kebaikan

Demikian amanat yang dapat Bapak/Ibu sampaikan. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk memperbaiki sikap dan menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.

Terima kasih atas perhatian anak-anak semua. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Amanat Pembina Upacara - Belajar Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil

Amanat Pembina Upacara

Tema: Belajar Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil


Anak-anakku yang saya banggakan,

Setiap dari kalian sedang menempuh perjalanan yang berbeda.

Ada yang langkahnya cepat,

ada yang masih tertatih,

dan ada pula yang sedang lelah.

Semua itu tidak salah.

Karena dalam hidup, yang paling berharga bukan siapa yang paling dulu sampai,

tetapi siapa yang tidak berhenti melangkah.

Sering kali kita terlalu sibuk melihat hasil:

nilai, peringkat, piala, dan pujian.

Padahal, keberhasilan yang sesungguhnya sedang tumbuh diam-diam

saat kalian berusaha, meski belum terlihat hasilnya.

Proses itu memang tidak selalu mudah.

Ada rasa bosan, gagal, kecewa, bahkan ingin menyerah.

Namun justru di situlah kalian sedang belajar menjadi kuat.

Setiap halaman yang dibaca,

setiap kesalahan yang diperbaiki,

setiap usaha yang diulang,

adalah bagian penting dari proses menuju versi terbaik diri kalian.

Anak-anakku,

Tidak apa-apa jika hari ini kalian belum menjadi yang terbaik.

Tidak apa-apa jika hasil kalian belum sempurna.

Yang terpenting, jangan berhenti mencoba dan belajar.

Ingatlah,

pohon yang besar tidak tumbuh dalam semalam.

Ia bertahan dari panas, hujan, dan angin,

hingga akhirnya mampu memberi manfaat bagi banyak orang.

Begitu pula dengan kalian.

Teruslah berproses dengan jujur dan sabar.

Percayalah, setiap usaha yang kalian lakukan hari ini

akan menemukan waktunya untuk berbuah.

Dan saat hasil itu datang nanti,

kalian akan bangga bukan hanya karena berhasil,

tetapi karena kalian tahu betul betapa kerasnya proses yang telah dilalui.

Semoga kalian tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri,

tidak mudah menyerah,

dan selalu menghargai setiap langkah kecil dalam hidup.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sunday, January 25, 2026

Amanat Pembina Upacara - Memungut Sampah Tidak Menunggu Perintah

✨Amanat Pembina Upacara✨

"Memungut Sampah Tidak Menunggu Perintah"


Ananda yang Bapak/Ibu banggakan,

Memungut sampah mungkin tidak akan membuat Ananda mendapatkan tepuk tangan. Tidak selalu dipuji. Bahkan bisa saja tidak ada satu pun yang memperhatikan. Namun tahukah Ananda? Apa yang Ananda lakukan itu bukan perbuatan kecil.

Memungut sampah yang dilakukan dengan sadar dan tulus adalah amal kebaikan. Amal yang tidak diumumkan, tetapi dicatat oleh malaikat. Bukan sekadar dicatat, melainkan dicatat pada tingkatan yang sangat tinggi, yaitu ikhlas. Berbuat baik karena Allah, bukan karena ingin dipuji manusia.

Ananda yang Bapak/Ibu cintai,

Sampah memang kotor. Ia menjijikkan. Ia sering dihindari. Tetapi orang yang mau memungut sampah bukanlah orang yang kotor. Justru dialah orang yang paling bersih—bersih hatinya, bersih niatnya, dan bersih akhlaknya.

Karakter sejati bukan terlihat saat banyak orang menonton, tetapi saat tidak ada yang melihat. Ketika Ananda menunduk memungut sampah tanpa disuruh, di situlah Ananda sedang berlatih menjadi pribadi yang mulia.

Ingatlah,

Allah mencintai hamba yang melakukan kebaikan walau kecil, walau sunyi, walau tanpa sorotan. Satu langkah kecil Ananda hari ini bisa menjadi pemberat timbangan kebaikan kelak.

Maka mulai hari ini, jangan remehkan kebaikan sederhana.

Jika melihat sampah, pungutlah.

Bukan karena aturan.

Bukan karena guru.

Tetapi karena hati Ananda sudah terlatih untuk peduli.

Mari kita tanamkan satu keyakinan dalam diri:

Yang kotor itu sampahnya,

yang bersih itu orang yang memungutnya.

Semoga dari kebiasaan kecil ini, Ananda tumbuh menjadi generasi yang bersih lahir dan batin, kuat karakter, dan tinggi keikhlasannya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Bersuara Itu Hak, Bersikap Sopan Itu Kewajiban

Amanat Pembina Upacara

Tema: Bersuara Itu Hak, Bersikap Sopan Itu Kewajiban


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Bapak/Ibu guru dan staf sekolah,


serta anak-anakku yang saya banggakan.

Anak-anakku sekalian,


Di zaman sekarang, kalian tumbuh di era yang memberi ruang sangat luas untuk berbicara, berpendapat, dan mengekspresikan diri. Itu adalah hal baik. Bersuara adalah hak setiap orang, termasuk kalian sebagai pelajar.


Kalian boleh bertanya, boleh menyampaikan pendapat, boleh berbeda pandangan. Sekolah tidak pernah melarang itu. Justru kami bangga jika kalian berani berpikir dan berani berbicara.


Namun, anak-anakku…

ada satu hal yang tidak boleh dilupakan:

👉 Hak selalu datang bersama kewajiban.

👉 Kebebasan harus diiringi tanggung jawab.

Di sinilah letak pentingnya sikap sopan.

Berani bicara bukan berarti boleh berkata kasar.


Menyampaikan pendapat bukan berarti boleh membentak.

Tidak setuju bukan alasan untuk merendahkan.

Sopan santun adalah cermin karakter.

Orang yang berilmu, akan terlihat dari adabnya.

Orang yang cerdas, akan terdengar dari tutur katanya.


Coba renungkan sejenak,

Apakah pendapat kita akan lebih didengar jika disampaikan dengan emosi?


Atau justru lebih dihargai jika disampaikan dengan bahasa yang santun?


Anak-anakku yang saya sayangi,

Di sekolah ini, kami tidak hanya ingin mencetak siswa yang pandai secara akademik, tetapi juga berkarakter, beretika, dan berakhlak baik.


 Karena setinggi apa pun ilmu seseorang, tanpa sopan santun, ilmu itu kehilangan maknanya.


Ingatlah,

👉 Sopan kepada guru adalah bentuk penghargaan terhadap ilmu.

👉 Sopan kepada teman adalah tanda kedewasaan.

👉 Sopan dalam berbicara adalah bukti kualitas diri.


Mari kita biasakan berkata baik,

berpendapat dengan santun,

dan berbeda tanpa menyakiti.


Karena sejatinya, orang hebat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling bijak sikapnya.


Semoga kita semua mampu menjadi pelajar yang berani bersuara, namun tetap rendah hati dan beradab dalam bersikap.


Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amanat Pembina Upacara - Belajar bukan sekedar nilai, tapi Membentuk Akhlak

Amanat Pembina Upacara

Tema : Belajar bukan sekedar nilai, tapi Membentuk Akhlak 


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua.


Yang saya hormati Bapak/Ibu guru dan tenaga kependidikan,

serta anak-anakku sekalian yang saya banggakan.


Pada kesempatan upacara pagi ini, izinkan saya menyampaikan amanat dengan tema


 “Belajar Bukan Sekadar Nilai, Tapi Membentuk Akhlak.”


Anak-anakku yang saya cintai,

Sekolah sering kali dipahami hanya sebagai tempat mengejar angka: nilai rapor, peringkat kelas, dan kelulusan. Padahal, tujuan utama pendidikan jauh lebih besar dari itu. Belajar sejatinya adalah proses membentuk karakter, menumbuhkan adab, dan mematangkan akhlak.


Nilai akademik memang penting, tetapi akhlak adalah pondasi hidup. Nilai yang tinggi tanpa sikap yang baik akan kehilangan maknanya. Sebaliknya, ilmu yang dibarengi akhlak mulia akan menjadi cahaya—bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.


Anak-anakku,

Orang yang berilmu tetapi tidak berakhlak dapat menyalahgunakan ilmunya. Namun, orang yang berakhlak baik akan selalu menggunakan ilmunya untuk kebaikan. Maka, di sekolah ini kita tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga belajar jujur, disiplin, tanggung jawab, sopan santun, serta menghargai guru dan sesama teman.


Akhlak tercermin dari hal-hal sederhana:

Cara berbicara kepada guru dan teman

Kejujuran saat mengerjakan tugas dan ujian

Kedisiplinan datang ke sekolah

Sikap menghargai perbedaan dan menjaga lingkungan


Hal-hal kecil inilah yang kelak menentukan siapa diri kalian di masa depan.

Anak-anakku yang saya banggakan,

Kesuksesan sejati bukan hanya tentang menjadi pintar, tetapi tentang menjadi manusia yang bermanfaat dan beradab. Jadilah pelajar yang cerdas pikirannya, santun sikapnya, dan kuat integritasnya.


Mari kita jadikan sekolah sebagai tempat menimba ilmu sekaligus menumbuhkan akhlak mulia. Karena ilmu tanpa akhlak akan hampa, dan akhlak tanpa ilmu akan pincang.


Akhir kata, semoga kita semua diberikan kekuatan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menumbuhkan karakter yang luhur dalam setiap langkah kehidupan kita.


Terima kasih atas perhatian anak-anakku sekalian.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.